iklan here

Jumat, 15 April 2011

Form Tulis Curhat Cinta







Punya kisah cinta anda yang ingin diceritakan ke orang lain??
Silahkan tuliskan kisah cinta anda, agar beban pikiran anda menjadi lepas.
Kami akan segera memberikan solusi bagi anda.

»» Readmore

Kamis, 07 April 2011

Kisah Cinta yang Mengharukan



Bacalah,  semoga kisah nyata ini menjadi pelajaran

bagi kita semua.
***

Cinta itu butuh kesabaran…

Sampai dimanakah kita harus bersabar menanti cinta kita???

Hari itu.. aku dengannya berkomitmen untuk menjaga cinta kita..

Aku menjadi perempuan yg paling bahagia…..

Pernikahan kami sederhana namun meriah…..

Ia menjadi pria yang sangat romantis pada waktu itu.

Aku bersyukur menikah dengan seorang pria yang shaleh, pintar,
tampan & mapan pula.

Ketika kami berpacaran dia sudah sukses dalam karirnya.

Kami akan berbulan madu di tanah suci, itu janjinya ketika kami
berpacaran dulu..

Dan setelah menikah, aku mengajaknya untuk umroh ke tanah suci….

Aku sangat bahagia dengannya, dan dianya juga sangat memanjakan
aku… sangat terlihat dari rasa cinta dan rasa sayangnya pada ku.

Banyak orang yang bilang kami adalah pasangan yang serasi.
Sangat terlihat sekali bagaimana suamiku memanjakanku. Dan aku bahagia
menikah dengannya.

***

Lima tahun berlalu sudah kami menjadi suami istri, sangat tak terasa
waktu begitu cepat berjalan walaupun kami hanya hidup berdua saja
karena sampai saat ini aku belum bisa memberikannya seorang malaikat
kecil (bayi) di tengah keharmonisan rumah tangga kami.

Karena dia anak lelaki satu-satunya dalam keluarganya, jadi aku
harus berusaha untuk mendapatkan penerus generasi baginya.

Alhamdulillah saat itu suamiku mendukungku…

Ia mengaggap Allah belum mempercayai kami untuk menjaga titipan-NYA.

Tapi keluarganya mulai resah. Dari awal kami menikah, ibu &
adiknya tidak menyukaiku. Aku sering mendapat perlakuan yang tidak
menyenangkan dari mereka, namun aku selalu berusaha menutupi hal itu
dari suamiku…

Didepan suami ku mereka berlaku sangat baik padaku, tapi dibelakang
suami ku, aku dihina-hina oleh mereka…

Pernah suatu ketika satu tahun usia pernikahan kami, suamiku
mengalami kecelakaan, mobilnya hancur. Alhamdulillah suami ku selamat
dari maut yang hampir membuat ku menjadi seorang janda itu.

Ia dirawat dirumah sakit pada saat dia belum sadarkan diri setelah
kecelakaan. Aku selalu menemaninya siang & malam sambil kubacakan
ayat-ayat suci Al – Qur’an. Aku sibuk bolak-balik dari rumah sakit dan
dari tempat aku melakukan aktivitas sosial ku, aku sibuk mengurus
suamiku yang sakit karena kecelakaan.

Namun saat ketika aku kembali ke rumah sakit setelah dari rumah
kami, aku melihat di dalam kamarnya ada ibu, adik-adiknya dan
teman-teman suamiku, dan disaat itu juga.. aku melihat ada seorang
wanita yang sangat akrab  mengobrol dengan ibu mertuaku. Mereka tertawa
menghibur suamiku.

Alhamdulillah suamiku ternyata sudah sadar, aku menangis ketika
melihat suami ku sudah sadar, tapi aku tak boleh sedih di hadapannya.

Kubuka pintu yang tertutup rapat itu  sambil mengatakan, “Assalammu’alaikum”
dan mereka menjawab salam ku. Aku berdiam sejenak di depan pintu dan
mereka semua melihatku. Suamiku menatapku penuh manja, mungkin ia
kangen padaku karena sudah 5 hari mata nya selalu tertutup.

Tangannya melambai, mengisyaratkan aku untuk memegang tangannya
erat. Setelah aku menghampirinya, kucium tangannya sambil berkata “Assalammu’alaikum”,
ia pun menjawab salam ku dengan suaranya yg lirih namun penuh dengan
cinta. Aku pun senyum melihat wajahnya.

Lalu.. Ibu nya berbicara denganku …

“Fis, kenalkan ini Desi teman Fikri”.

Aku teringat cerita dari suamiku bahwa teman baiknya pernah
mencintainya, perempuan itu bernama Desi dan dia sangat akrab dengan
keluarga suamiku. Hingga akhirnya aku bertemu dengan orangnya juga. Aku
pun langsung berjabat tangan dengannya, tak banyak aku bicara di
dalam ruangan tersebut,aku tak mengerti apa yg mereka bicarakan.

Aku sibuk membersihkan & mengobati luka-luka di kepala suamiku,
baru sebentar aku membersihkan mukanya, tiba-tiba adik ipar ku yang
bernama Dian mengajakku keluar, ia minta ditemani ke kantin. Dan
suamiku pun mengijinkannya. Kemudian aku pun menemaninya.

Tapi ketika di luar adik ipar ku berkata, ”lebih baik kau pulang
saja, ada
kami yg menjaga abang disini. Kau istirahat saja. ”

Anehnya, aku tak diperbolehkan berpamitan dengan suamiku dengan
alasan abang harus banyak beristirahat dan karena psikologisnya masih
labil. Aku berdebat dengannya mempertanyakan mengapa aku tidak
diizinkan berpamitan dengan suamiku. Tapi tiba-tiba ibu mertuaku datang
menghampiriku dan ia juga mengatakan hal yang sama. Nantinya dia akan
memberi alasan pada suamiku mengapa aku pulang tak berpamitan
padanya, toh suamiku selalu menurut apa kata ibunya, baik ibunya salah
ataupun tidak, suamiku tetap saja membenarkannya. Akhirnya aku pun
pergi meninggalkan rumah sakit itu dengan linangan air mata.

Sejak saat itu aku tidak pernah diijinkan menjenguk suamiku sampai
ia kembali dari rumah sakit. Dan aku hanya bisa menangis dalam
kesendirianku. Menangis mengapa mereka sangat membenciku.

***

Hari itu.. aku menangis tanpa sebab, yang ada di benakku aku takut
kehilangannya, aku takut cintanya dibagi dengan yang lain.

Pagi itu, pada saat aku membersihkan pekarangan rumah kami, suamiku
memanggil ku ke taman belakang, ia baru aja selesai sarapan, ia
mengajakku duduk di ayunan favorit kami sambil melihat ikan-ikan yang
bertaburan di kolam air mancur itu.

Aku bertanya, ”Ada apa kamu memanggilku?”

Ia berkata, ”Besok aku akan menjenguk keluargaku di Sabang”

Aku menjawab, ”Ia sayang.. aku tahu, aku sudah mengemasi
barang-barang kamu di travel bag dan kamu sudah memeegang tiket bukan?”

“Ya tapi aku tak akan lama disana, cuma 3 minggu aku disana, aku
juga sudah lama tidak bertemu dengan keluarga besarku sejak kita
menikah dan aku akan pulang dengan mama ku”, jawabnya tegas.

“Mengapa baru sekarang bicara, aku pikir hanya seminggu saja
kamu disana?“, tanya ku balik kepadanya penuh dengan rasa
penasaran dan sedikit rasa kecewa karena ia baru memberitahukan rencana
kepulanggannya itu, padahal aku telah bersusah payah mencarikan tiket
pesawat untuknya.

”Mama minta aku yang menemaninya saat pulang nanti”,
jawabnya tegas.

”Sekarang aku ingin seharian dengan kamu karena nanti kita 3
minggu tidak bertemu, ya kan?”, lanjut nya lagi sambil memelukku
dan mencium keningku. Hatiku sedih dengan keputusannya, tapi tak boleh
aku tunjukkan pada nya.

Bahagianya aku dimanja dengan suami yang penuh dengan rasa sayang
& cintanya walau terkadang ia bersikap kurang adil terhadapku.

Aku hanya bisa tersenyum saja, padahal aku ingin bersama suamiku,
tapi karena keluarganya tidak menyukaiku hanya karena mereka cemburu
padaku karena suamiku sangat sayang padaku.

Kemudian aku memutuskan agar ia saja yg pergi dan kami juga harus
berhemat dalam pengeluaran anggaran rumah tangga kami.

Karena ini acara sakral bagi keluarganya, jadi seluruh keluarganya
harus komplit. Walaupun begitu, aku pun tetap tak akan diperdulikan
oleh keluarganya harus datang ataupun tidak. Tidak hadir justru membuat
mereka sangat senang dan aku pun tak mau membuat riuh keluarga ini.

Malam sebelum kepergiannya, aku menangis sambil membereskan
keperluan yang akan dibawanya ke Sabang, ia menatapku dan menghapus
airmata yang jatuh dipipiku, lalu aku peluk erat dirinya. Hati ini
bergumam tak merelakan dia pergi seakan terjadi sesuatu, tapi aku tidak
tahu apa yang akan terjadi. Aku hanya bisa menangis karena akan
ditinggal pergi olehnya.

Aku tidak pernah ditinggal pergi selama ini, karena kami selalu
bersama-sama kemana pun ia pergi.

Apa mungkin aku sedih karena aku sendirian dan tidak memiliki teman,
karena biasanya hanya pembantu sajalah teman mengobrolku.

Hati ini sedih akan di tinggal pergi olehnya.

Sampai keesokan harinya, aku terus menangis.. menangisi
kepergiannya. Aku tak tahu mengapa sesedih ini, perasaanku tak enak,
tapi aku tak boleh berburuk sangka. Aku harus percaya apada suamiku.
Dia pasti akan selalu menelponku.

***

Berjauhan dengan suamiku, aku merasa sangat tidak nyaman, aku merasa
sendiri. Untunglah aku mempunyai kesibukan sebagai seorang aktivis,
jadinya aku tak terlalu kesepian ditinggal pergi ke Sabang.

Saat kami berhubungan jarak jauh, komunikasi kami memburuk dan aku
pun jatuh sakit. Rahimku terasa sakit sekali seperti di lilit oleh
tali. Tak tahan aku menahan rasa sakit dirahimku ini, sampai-sampai aku
mengalami pendarahan. Aku dilarikan ke rumah sakit oleh adik
laki-lakiku yang kebetulan menemaniku disana. Dokter memvonis aku
terkena kanker mulut rahim stadium 3.

Aku menangis.. apa yang bisa aku banggakan lagi..

Mertuaku akan semakin menghinaku, suamiku yang malang yang selalu
berharap akan punya keturunan dari rahimku.. namun aku tak bisa
memberikannya keturunan. Dan kemudian aku hanya bisa memeluk adikku.

Aku kangen pada suamiku, aku selalu menunggu ia pulang dan
bertanya-tanya, “kapankah ia segera pulang?” aku tak tahu..

Sementara suamiku disana, aku tidak tahu mengapa ia selalu
marah-marah jika menelponku. Bagaimana aku akan menceritakan kondisiku
jika ia selalu marah-marah terhadapku..

Lebih baik aku tutupi dulu tetang hal ini dan aku juga tak mau
membuatnya khawatir selama ia berada di Sabang.

Lebih baik nanti saja ketika ia sudah pulang dari Sabang, aku akan
cerita padanya. Setiap hari aku menanti suamiku pulang, hari demi hari
aku hitung…

Sudah 3 minggu suamiku di Sabang, malam itu ketika aku sedang
melihat foto-foto kami, ponselku berbunyi menandakan ada sms yang
masuk.

Kubuka di inbox ponselku, ternyata dari suamiku yang sms.

Ia menulis, “aku sudah beli tiket untuk pulang, aku pulangnya
satu hari lagi, aku akan kabarin lagi”.

Hanya itu saja yang diinfokannya. Aku ingin marah, tapi aku pendam
saja ego yang tidak baik ini. Hari yg aku tunggu pun tiba, aku
menantinya di rumah.

Sebagai seorang istri, aku pun berdandan yang cantik dan memakai
parfum kesukaannya untuk menyambut suamiku pulang, dan nantinya aku
juga akan menyelesaikan masalah komunikasi kami yg buruk akhir-akhir
ini.

Bel pun berbunyi, kubukakan pintu untuknya dan ia pun mengucap
salam. Sebelum masuk, aku pegang tangannya kedepan teras namun ia tetap
berdiri, aku membungkuk untuk melepaskan sepatu, kaos kaki dan kucuci
kedua kakinya, aku tak mau ada syaithan yang masuk ke dalam rumah
kami.

Setelah itu akupun berdiri langsung mencium tangannya tapi apa
reaksinya..

Masya Allah.. ia tidak mencium keningku, ia hanya diam dan langsung
naik keruangan atas, kemudian mandi dan tidur tanpa bertanya kabarku..

Aku hanya berpikir, mungkin dia capek. Aku pun segera merapikan
bawaan nya sampai aku pun tertidur. Malam menunjukkan 1/3 malam,
mengingatkan aku pada tempat mengadu yaitu Allah, Sang Maha Pencipta.

Biasa nya kami selalu berjama’ah, tapi karena melihat nya tidur
sangat pulas, aku tak tega membangunkannya. Aku hanya mengeelus
wajahnya dan aku cium keningnya, lalu aku sholat tahajud 8 rakaat plus
witir 3 raka’at.

***

Aku mendengar suara mobilnya, aku terbangun lalu aku melihat dirinya
dari balkon kamar kami yang bersiap-siap untuk pergi. Lalu aku
memanggilnya tapi ia tak mendengar. Kemudian aku ambil jilbabku dan aku
berlari dari atas ke bawah tanpa memperdulikan darah yg bercecer dari
rahimku untuk mengejarnya tapi ia begitu cepat pergi.

Aku merasa ada yang aneh dengan suamiku. Ada apa dengan suamiku?
Mengapa ia bersikap tidak biasa terhadapku?

Aku tidak bisa diam begitu saja, firasatku mengatakan ada sesuatu.
Saat itu juga aku langsung menelpon kerumah mertuakudan kebetulan Dian
yang mengangkat telponnya, aku bercerita dan aku bertanya apa yang
sedang terjadi dengan suamiku. Dengan enteng ia menjawab, “Loe
pikir aja sendiri!!!”. Telpon pun langsung terputus.

Ada apa ini? Tanya hatiku penuh dalam kecemasan. Mengapa suamiku
berubah setelah ia kembali dari kota kelahirannya. Mengapa ia tak mau
berbicara padaku, apalagi memanjakan aku.

Semakin hari ia menjadi orang yang pendiam, seakan ia telah melepas
tanggung jawabnya sebagai seorang suami. Kami hanya berbicara
seperlunya saja, aku selalu diintrogasinya. Selalu bertanya aku dari
mana dan mengapa pulang terlambat dan ia bertanya dengan nada yg keras.
Suamiku telah berubah.

Bahkan yang membuat ku kaget, aku pernah dituduhnya berzina dengan
mantan pacarku. Ingin rasanya aku menampar suamiku yang telah menuduhku
serendah itu, tapi aku selalu ingat.. sebagaimana pun salahnya
seorang suami, status suami tetap di atas para istri, itu pedoman yang
aku pegang.

Aku hanya berdo’a semoga suamiku sadar akan prilakunya.

***

Dua tahun berlalu, suamiku tak kunjung berubah juga. Aku menangis
setiap malam, lelah menanti seperti ini, kami seperti orang asing yang
baru saja berkenalan.

Kemesraan yang kami ciptakan dulu telah sirna. Walaupun kondisinya
tetap seperti itu, aku tetap merawatnya & menyiakan segala yang ia
perlukan. Penyakitkupun masih aku simpan dengan baik dan sekalipun ia
tak pernah bertanya perihal obat apa yang aku minum. Kebahagiaan ku
telah sirna, harapan menjadi ibu pun telah aku pendam. Aku tak tahu
kapan ini semua akan berakhir.

Bersyukurlah.. aku punya penghasilan sendiri dari aktifitasku
sebagai seorang guru ngaji, jadi aku tak perlu meminta uang padanya
hanya untuk pengobatan kankerku. Aku pun hanya berobat semampuku.

Sungguh.. suami yang dulu aku puja dan aku banggakan, sekarang telah
menjadi orang asing bagiku, setiap aku bertanya ia selalu menyuruhku
untuk berpikir sendiri. Tiba-tiba saja malam itu setelah makan malam
usai, suamiku memanggilku.

“Ya, ada apa Yah!” sahutku dengan memanggil nama
kesayangannya “Ayah”.

“Lusa kita siap-siap ke Sabang ya.” Jawabnya tegas.

“Ada apa? Mengapa?”, sahutku penuh dengan keheranan.

Astaghfirullah.. suami ku yang dulu lembut tiba-tiba saja menjadi
kasar, dia membentakku. Sehingga tak ada lagi kelanjutan diskusi antara
kami.

Dia mengatakan ”Kau ikut saja jangan banyak tanya!!”

Lalu aku pun bersegera mengemasi barang-barang yang akan dibawa ke
Sabang sambil menangis, sedih karena suamiku kini tak ku kenal lagi.

Dua tahun pacaran, lima tahun kami menikah dan sudah 2 tahun pula ia
menjadi orang asing buatku. Ku lihat kamar kami yg dulu hangat penuh
cinta yang dihiasi foto pernikahan kami, sekarang menjadi dingin..
sangat dingin dari batu es. Aku menangis dengan kebingungan ini. Ingin
rasanya aku berontak berteriak, tapi aku tak bisa.

Suamiku tak suka dengan wanita yang kasar, ngomong dengan nada
tinggi, suka membanting barang-barang. Dia bilang perbuatan itu
menunjukkan sikap ketidakhormatan kepadanya. Aku hanya bisa bersabar
menantinya bicara dan sabar mengobati penyakitku ini, dalam
kesendirianku..

***

Kami telah sampai di Sabang, aku masih merasa lelah karena semalaman
aku tidak tidur karena terus berpikir. Keluarga besarnya juga telah
berkumpul disana, termasuk ibu & adik-adiknya. Aku tidak tahu ada
acara apa ini..

Aku dan suamiku pun masuk ke kamar kami. Suamiku tak betah didalam
kamar tua itu, ia pun langsung keluar bergabung dengan keluarga
besarnya.

Baru saja aku membongkar koper kami dan ingin memasukkannya ke dalam
lemari tua yg berada di dekat pintu kamar, lemari tua yang telah ada
sebelum suamiku lahir tiba-tiba Tante Lia, tante yang sangat baik
padaku memanggil ku untuk bersegera berkumpul diruang tengah, aku pun
menuju ke ruang keluarga yang berada ditengah rumah besar itu, yang
tampak seperti rumah zaman peninggalan belanda.

Kemudian aku duduk disamping suamiku, dan suamiku menunduk penuh
dengan kebisuan, aku tak berani bertanya padanya.

Tiba-tiba saja neneknya, orang yang dianggap paling tua dan paling
berhak atas semuanya, membuka pembicaraan.

“Baiklah, karena kalian telah berkumpul, nenek ingin bicara
dengan kau Fisha”. Neneknya berbicara sangat tegas, dengan sorot
mata yang tajam.

”Ada apa ya Nek?” sahutku dengan penuh tanya..

Nenek pun menjawab, “Kau telah bergabung dengan keluarga kami
hampir 8 tahun, sampai saat ini kami tak melihat tanda-tanda kehamilan
yang sempurna sebab selama ini kau selalu keguguran!!“.

Aku menangis.. untuk inikah aku diundang kemari? Untuk dihina
ataukah dipisahkan dengan suamiku?

“Sebenarnya kami sudah punya calon untuk Fikri, dari dulu..
sebelum kau menikah dengannya. Tapi Fikri anak yang keras kepala, tak
mau di atur,dan akhirnya menikahlah ia dengan kau.” Neneknya
berbicara sangat lantang, mungkin logat orang Sabang seperti itu semua.

Aku hanya bisa tersenyum dan melihat wajah suamiku yang kosong
matanya.

“Dan aku dengar dari ibu mertuamu kau pun sudah berkenalan
dengannya”, neneknya masih melanjutkan pembicaraan itu.

Sedangkan suamiku hanya terdiam saja, tapi aku lihat air matanya.
Ingin aku peluk suamiku agar ia kuat dengan semua ini, tapi aku tak
punya keberanian itu.

Neneknya masih saja berbicara panjang lebar dan yang terakhir dari
ucapannya dengan mimik wajah yang sangat menantang kemudian berkata, “kau
maunya gimana? kau dimadu atau diceraikan?“

MasyaAllah.. kuatkan hati ini.. aku ingin jatuh pingsan. Hati ini
seakan remuk mendengarnya, hancur hatiku. Mengapa keluarganya bersikap
seperti ini terhadapku..

Aku selalu munutupi masalah ini dari kedua orang tuaku yang tinggal
di pulau
kayu, mereka mengira aku sangat bahagia 2 tahun belakangan ini.

“Fish, jawab!.” Dengan tegas Ibunya langsung memintaku
untuk menjawab.

Aku langsung memegang tangan suamiku. Dengan tangan yang dingin dan
gemetar aku menjawab dengan tegas.

”Walaupun aku tidak bisa berdiskusi dulu dengan imamku, tapi aku
dapat berdiskusi dengannya melalui bathiniah, untuk kebaikan dan masa
depan keluarga ini, aku akan menyambut baik seorang wanita baru
dirumah kami.”

Itu yang aku jawab, dengan kata lain aku rela cintaku dibagi. Dan
pada saat itu juga suamiku memandangku dengan tetesan air mata, tapi
air mataku tak sedikit pun menetes di hadapan mereka.

Aku lalu bertanya kepada suamiku, “Ayah siapakah yang akan
menjadi sahabatku dirumah kita nanti, yah?”

Suamiku menjawab, ”Dia Desi!”

Aku pun langsung menarik napas dan langsung berbicara, ”Kapan
pernikahannya berlangsung? Apa yang harus saya siapkan dalam pernikahan
ini Nek?.”

Ayah mertuaku menjawab, “Pernikahannya 2 minggu lagi.”

”Baiklah kalo begitu saya akan menelpon pembantu di rumah, untuk
menyuruhnya mengurus KK kami ke kelurahan besok”, setelah
berbicara seperti itu aku permisi untuk pamit ke kamar.

Tak tahan lagi.. air mata ini akan turun, aku berjalan sangat cepat,
aku buka pintu kamar dan aku langsung duduk di tempat tidur. Ingin
berteriak, tapi aku sendiri disini. Tak kuat rasanya menerima hal ini,
cintaku telah dibagi. Sakit. Diiringi akutnya penyakitku..

Apakah karena ini suamiku menjadi orang yang asing selama 2 tahun
belakangan ini?

Aku berjalan menuju ke meja rias, kubuka jilbabku, aku bercermin
sambil bertanya-tanya, “sudah tidak cantikkah aku ini?“

Ku ambil sisirku, aku menyisiri rambutku yang setiap hari rontok.
Kulihat wajahku, ternyata aku memang sudah tidak cantik lagi, rambutku
sudah hampir habis.. kepalaku sudah botak dibagian tengahnya.

Tiba-tiba pintu kamar ini terbuka, ternyata suamiku yang datang, ia
berdiri dibelakangku. Tak kuhapus air mata ini, aku bersegera
memandangnya dari cermin meja rias itu.

Kami diam sejenak, lalu aku mulai pembicaraan, “terima kasih
ayah, kamu memberi sahabat kepada ku. Jadi aku tak perlu sedih lagi
saat ditinggal pergi kamu nanti! Iya kan?.”

Suamiku mengangguk sambil melihat kepalaku tapi tak sedikitpun ia
tersenyum dan bertanya kenapa rambutku rontok, dia hanya mengatakan
jangan salah memakai shampo.

Dalam hatiku bertanya, “mengapa ia sangat cuek?” dan ia
sudah tak memanjakanku lagi. Lalu dia berkata,  “sudah malam, kita
istirahat yuk!“

“Aku sholat isya dulu baru aku tidur”, jawabku tenang.

Dalam sholat dan dalam tidur aku menangis. Ku hitung mundur waktu,
kapan aku akan berbagi suami dengannya. Aku pun ikut sibuk mengurusi
pernikahan suamiku.

Aku tak tahu kalau Desi orang Sabang juga. Sudahlah, ini mungkin
takdirku. Aku ingin suamiku kembali seperti dulu, yang sangat
memanjakan aku atas rasa sayang dan cintanya itu.

***

Malam sebelum hari pernikahan suamiku, aku menulis curahan hatiku di
laptopku.

Di laptop aku menulis saat-saat terakhirku melihat suamiku, aku
marah pada suamiku yang telah menelantarkanku. Aku menangis melihat
suamiku yang sedang tidur pulas, apa salahku? sampai ia berlaku sekejam
itu kepadaku. Aku
save di mydocument yang bertitle “Aku Mencintaimu Suamiku.”

Hari pernikahan telah tiba, aku telah siap, tapi aku tak sanggup
untuk keluar. Aku berdiri didekat jendela, aku melihat matahari, karena
mungkin saja aku takkan bisa melihat sinarnya lagi. Aku berdiri
sangat lama.. lalu suamiku yang telah siap dengan pakaian pengantinnya
masuk dan berbicara padaku.

“Apakah kamu sudah siap?”

Kuhapus airmata yang menetes diwajahku sambil berkata :

“Nanti jika ia telah sah jadi istrimu, ketika kamu membawa ia
masuk kedalam rumah ini, cucilah kakinya sebagaimana kamu mencuci
kakiku dulu, lalu ketika kalian masuk ke dalam kamar pengantin bacakan
do’a di ubun-ubunnya sebagaimana yang kamu lakukan padaku dulu. Lalu
setelah itu..”, perkataanku terhenti karena tak sanggup aku
meneruskan pembicaraan itu, aku ingin menagis meledak.

Tiba-tiba suamiku menjawab “Lalu apa Bunda?”

Aku kaget mendengar kata itu, yang tadinya aku menunduk seketika aku
langsung menatapnya dengan mata yang berbinar-binar…

“Bisa kamu ulangi apa yang kamu ucapkan barusan?”, pintaku
tuk menyakini bahwa kuping ini tidak salah mendengar.

Dia mengangguk dan berkata, ”Baik bunda akan ayah ulangi, lalu
apa bunda?”, sambil ia mengelus wajah dan menghapus airmataku, dia
agak sedikit membungkuk karena dia sangat tinggi, aku hanya sedadanya
saja.

Dia tersenyum sambil berkata, ”Kita liat saja nanti ya!”.
Dia memelukku dan berkata, “bunda adalah wanita yang paling kuat
yang ayah temui selain mama”.

Kemudian ia mencium keningku, aku langsung memeluknya erat dan
berkata, “Ayah, apakah ini akan segera berakhir? Ayah kemana saja?
Mengapa Ayah berubah? Aku kangen sama Ayah? Aku kangen belaian kasih
sayang Ayah? Aku kangen dengan manjanya Ayah? Aku kesepian Ayah? Dan
satu hal lagi yang harus Ayah tau, bahwa aku tidak pernah berzinah!
Dulu.. waktu awal kita pacaran, aku memang belum bisa melupakannya,
setelah 4 bulan bersama Ayah baru bisa aku terima, jika yang
dihadapanku itu adalah lelaki yang aku cari. Bukan berarti aku pernah
berzina Ayah.” Aku langsung bersujud di kakinya dan muncium kaki
imamku sambil berkata, ”Aku minta maaf Ayah, telah membuatmu susah”.

Saat itu juga, diangkatnya badanku.. ia hanya menangis.

Ia memelukku sangat lama, 2 tahun aku menanti dirinya kembali.
Tiba-tiba perutku sakit, ia menyadari bahwa ada yang tidak beres
denganku dan ia bertanya, ”bunda baik-baik saja kan?” tanyanya
dengan penuh khawatir.

Aku pun menjawab, “bisa memeluk dan melihat kamu kembali seperti
dulu itu sudah mebuatku baik, Yah. Aku hanya tak bisa bicara sekarang“.
Karena dia akan menikah. Aku tak mau membuat dia khawatir. Dia harus
khusyu menjalani acara prosesi akad nikah tersebut.

***

Setelah tiba dimasjid, ijab-qabul pun dimulai. Aku duduk diseberang
suamiku.

Aku melihat suamiku duduk berdampingan dengan perempuan itu, membuat
hati ini cemburu, ingin berteriak mengatakan, “Ayah jangan!!”,
tapi aku ingat akan kondisiku.

Jantung ini berdebar kencang saat mendengar ijab-qabul tersebut.
Begitu ijab-qabul selesai, aku menarik napas panjang. Tante Lia, tante
yang baik itu, memelukku. Dalam hati aku berusaha untuk menguatkan
hati ini. Ya… aku kuat.

Tak sanggup aku melihat mereka duduk bersanding dipelaminan.
Orang-orang yang hadir di acara resepsi itu iba melihatku, mereka
melihatku dengan tatapan sangat aneh, mungkin melihat wajahku yang
selalu tersenyum, tapi dibalik itu.. hatiku menangis.

Sampai dirumah, suamiku langsung masuk ke dalam rumah begitu saja.
Tak mencuci kakinya. Aku sangat heran dengan perilakunya. Apa iya, dia
tidak suka dengan pernikahan ini?

Sementara itu Desi disambut hangat di dalam keluarga suamiku, tak
seperti aku dahulu, yang di musuhi.

Malam ini aku tak bisa tidur, bagaimana bisa? Suamiku akan tidur
dengan perempuan yang sangat aku cemburui. Aku tak tahu apa yang sedang
mereka lakukan didalam sana.

Sepertiga malam pada saat aku ingin sholat lail aku keluar untuk
berwudhu, lalu aku melihat ada lelaki yang mirip suamiku tidur disofa
ruang tengah. Kudekati lalu kulihat. Masya Allah.. suamiku tak tidur
dengan wanita itu, ia ternyata tidur disofa, aku duduk disofa itu
sambil menghelus wajahnya yang lelah, tiba-tiba ia memegang tangan
kiriku, tentu saja aku kaget.

“Kamu datang ke sini, aku pun tahu”, ia berkata seperti
itu. Aku tersenyum dan megajaknya sholat lail. Setelah sholat lail ia
berkata, “maafkan aku, aku tak boleh menyakitimu, kamu menderita
karena ego nya aku. Besok kita pulang ke Jakarta, biar Desi pulang
dengan mama, papa dan juga adik-adikku”

Aku menatapnya dengan penuh keheranan. Tapi ia langsung mengajakku
untuk istirahat. Saat tidur ia memelukku sangat erat. Aku tersenyum
saja, sudah lama ini tidak terjadi. Ya Allah.. apakah Engkau akan
menyuruh malaikat maut untuk mengambil nyawaku sekarang ini, karena aku
telah merasakan kehadirannya saat ini. Tapi.. masih bisakah engkau
ijinkan aku untuk merasakan kehangatan dari suamiku yang telah hilang
selama 2 tahun ini..

Suamiku berbisik, “Bunda kok kurus?”

Aku menangis dalam kebisuan. Pelukannya masih bisa aku rasakan.

Aku pun berkata, “Ayah kenapa tidak tidur dengan Desi?”

”Aku kangen sama kamu Bunda, aku tak mau menyakitimu lagi. Kamu
sudah sering terluka oleh sikapku yang egois.” Dengan lembut
suamiku menjawab seperti itu.

Lalu suamiku berkata, ”Bun, ayah minta maaf telah menelantarkan
bunda.. Selama ayah di Sabang, ayah dengar kalau bunda tidak tulus
mencintai ayah, bunda seperti mengejar sesuatu, seperti mengejar harta
ayah dan satu lagi.. ayah pernah melihat sms bunda dengan mantan pacar
bunda dimana isinya kalau bunda gak mau berbuat “seperti itu” dan
tulisan seperti itu diberi tanda kutip (“seperti itu”). Ayah ingin
ngomong tapi takut bunda tersinggung dan ayah berpikir kalau bunda
pernah tidur dengannya sebelum bunda bertemu ayah, terus ayah dimarahi
oleh keluarga ayah karena ayah terlalu memanjakan bunda”

Hati ini sakit ketika difitnah oleh suamiku, ketika tidak ada
kepercayaan di dirinya, hanya karena omongan keluarganya yang tidak
pernah melihat betapa tulusnya aku mencintai pasangan seumur hidupku
ini.

Aku hanya menjawab, “Aku sudah ceritakan itu kan Yah. Aku tidak
pernah berzinah dan aku mencintaimu setulus hatiku, jika aku hanya
mengejar hartamu, mengapa aku memilih kamu? Padahal banyak lelaki yang
lebih mapan darimu waktu itu Yah. Jika aku hanya mengejar hartamu, aku
tak mungkin setiap hari menangis karena menderita mencintaimu.“

Entah aku harus bahagia atau aku harus sedih karena sahabatku
sendirian dikamar pengantin itu. Malam itu, aku menyelesaikan masalahku
dengan suamiku dan berusaha memaafkannya beserta sikap keluarganya
juga.

Karena aku tak mau mati dalam hati yang penuh dengan rasa benci.

***

Keesokan harinya…

Ketika aku ingin terbangun untuk mengambil wudhu, kepalaku pusing,
rahimku sakit sekali.. aku mengalami pendarahan dan suamiku kaget bukan
main, ia langsung menggendongku.

Aku pun dilarikan ke rumah sakit..

Dari kejauhan aku mendengar suara zikir suamiku..

Aku merasakan tanganku basah..

Ketika kubuka mata ini, kulihat wajah suamiku penuh dengan rasa
kekhawatiran.

Ia menggenggam tanganku dengan erat.. Dan mengatakan, ”Bunda,
Ayah minta maaf…”

Berkali-kali ia mengucapkan hal itu. Dalam hatiku, apa ia tahu apa
yang terjadi padaku?

Aku berkata dengan suara yang lirih, ”Yah, bunda ingin pulang..
bunda ingin bertemu kedua orang tua bunda, anterin bunda kesana ya,
Yah..”

“Ayah jangan berubah lagi ya! Janji ya, Yah… !!! Bunda sayang
banget sama Ayah.”

Tiba-tiba saja kakiku sakit sangat sakit, sakitnya semakin keatas,
kakiku sudah tak bisa bergerak lagi.. aku tak kuat lagi memegang tangan
suamiku. Kulihat wajahnya yang tampan, berlinang air mata.

Sebelum mata ini tertutup, kulafazkan kalimat syahadat dan ditutup
dengan kalimat tahlil.

Aku bahagia melihat suamiku punya pengganti diriku..

Aku bahagia selalu melayaninya dalam suka dan duka..

Menemaninya dalam ketika ia mengalami kesulitan dari kami
pacaran sampai kami menikah.

Aku bahagia bersuamikan dia. Dia adalah nafasku.

Untuk Ibu mertuaku : “Maafkan aku telah hadir didalam kehidupan
anakmu sampai aku hidup didalam hati anakmu, ketahuilah Ma.. dari dulu
aku selalu berdo’a agar Mama merestui hubungan kami. Mengapa engkau
fitnah diriku didepan suamiku, apa engkau punya buktinya Ma? Mengapa
engkau sangat cemburu padaku Ma? Fikri tetap milikmu Ma, aku tak pernah
menyuruhnya untuk durhaka kepadamu, dari dulu aku selalu mengerti apa
yang kamu inginkan dari anakmu, tapi mengapa kau benci diriku. Dengan
Desi kau sangat baik tetapi denganku menantumu kau bersikap
sebaliknya.”

***

Setelah ku buka laptop, kubaca curhatan istriku.

=====================================================

Ayah, mengapa keluargamu sangat membenciku?

Aku dihina oleh mereka ayah.

Mengapa mereka bisa baik terhadapku pada saat ada dirimu?

Pernah suatu ketika aku bertemu Dian di jalan, aku menegurnya karena
dia adik iparku tapi aku disambut dengan wajah ketidaksukaannya.
Sangat terlihat Ayah..

Tapi ketika engkau bersamaku, Dian sangat baik, sangat manis dan ia
memanggilku dengan panggilan yang sangat menghormatiku. Mengapa
seperti itu ayah?

Aku tak bisa berbicara tentang ini padamu, karena aku tahu kamu
pasti membela adikmu, tak ada gunanya Yah..

Aku diusir dari rumah sakit.

Aku tak boleh merawat suamiku.

Aku cemburu pada Desi yang sangat akrab dengan mertuaku.

Tiap hari ia datang ke rumah sakit bersama mertuaku.

Aku sangat marah..

Jika aku membicarakan hal ini pada suamiku, ia akan pasti membela
Desi dan
ibunya..

Aku tak mau sakit hati lagi.

Ya Allah kuatkan aku, maafkan aku..

Engkau Maha Adil..

Berilah keadilan ini padaku, Ya Allah..

Ayah sudah berubah, ayah sudah tak sayang lagi pada ku..

Aku berusaha untuk mandiri ayah, aku tak akan bermanja-manja lagi
padamu..

Aku kuat ayah dalam kesakitan ini..

Lihatlah ayah, aku kuat walaupun penyakit kanker ini terus
menyerangku..

Aku bisa melakukan ini semua sendiri ayah..

Besok suamiku akan menikah dengan perempuan itu.

Perempuan yang aku benci, yang aku cemburui.

Tapi aku tak boleh egois, ini untuk kebahagian keluarga suamiku.

Aku harus sadar diri.

Ayah, sebenarnya aku tak mau diduakan olehmu.

Mengapa harus Desi yang menjadi sahabatku?

Ayah.. aku masih tak rela.

Tapi aku harus ikhlas menerimanya.

Pagi nanti suamiku melangsungkan pernikahan keduanya.

Semoga saja aku masih punya waktu untuk melihatnya tersenyum
untukku.

Aku ingin sekali merasakan kasih sayangnya yang terakhir.

Sebelum ajal ini menjemputku.

Ayah.. aku kangen ayah..

=====================================================

Dan kini aku telah membawamu ke orang tuamu, Bunda..

Aku akan mengunjungimu sebulan sekali bersama Desi di Pulau Kayu
ini.

Aku akan selalu membawakanmu bunga mawar yang berwana pink yang
mencerminkan keceriaan hatimu yang sakit tertusuk duri.

Bunda tetap cantik, selalu tersenyum disaat tidur.

Bunda akan selalu hidup dihati ayah.

Bunda.. Desi tak sepertimu, yang tidak pernah marah..

Desi sangat berbeda denganmu, ia tak pernah membersihkan telingaku,
rambutku tak pernah di creambathnya, kakiku pun tak pernah dicucinya.

Ayah menyesal telah menelantarkanmu selama 2 tahun, kamu sakit pun
aku tak perduli, hidup dalam kesendirianmu..

Seandainya Ayah tak menelantarkan Bunda, mungkin ayah masih bisa
tidur dengan belaian tangan Bunda yang halus.

Sekarang Ayah sadar, bahwa ayah sangat membutuhkan bunda..

Bunda, kamu wanita yang paling tegar yang pernah kutemui.

Aku menyesal telah asik dalam ke-egoanku..

Bunda.. maafkan aku.. Bunda tidur tetap manis. Senyum manjamu
terlihat di tidurmu yang panjang.

Maafkan aku, tak bisa bersikap adil dan membahagiakanmu, aku selalu
meng-iyakan apa kata ibuku, karena aku takut menjadi anak durhaka.
Maafkan aku ketika kau di fitnah oleh keluargaku, aku percaya begitu
saja.

Apakah Bunda akan mendapat pengganti ayah di surga sana?

Apakah Bunda tetap menanti ayah disana? Tetap setia dialam sana?

Tunggulah Ayah disana Bunda..

Bisakan? Seperti Bunda menunggu ayah di sini.. Aku mohon..

Ayah Sayang Bunda..

***
»» Readmore

Aku jatuh cinta dengan sahabatku






Aku pria usia 20an taon.. Mpe saat ini aku blum pernah pacaran. Aku bukan takut nembak or ga mau berpacaran. Tapi aku memang tidak gampang untuk jatuh cinta dengan wanita. Aku ga bisa jatuh cinta ke cewe hanya dari fisik aja. Butuh proses. Waktu kuliah aku pernah dekat dan nembak cewe. Tapi ditolak. Aku terlalu cuek dan malu2in.. hahaha… That's OK. Setelah lulus kuliah aku pernah deket jg sm temen cewe, pas kuliah cukup dekat krn temen main.. Aku sempet naksir sm dia, tp untungnya aku msh bs control perasaanku (soalnya aku punya prinsip ga mau pacaran dg sahabat sendiri). Jd aku ga pernah nembak cewe yg satu ini.. Kami hanya teman deket sampai skrg.. 


Intronya cukup…
Seperti judulnya, saat ini aku jatuh cinta dengan sahabatku sendiri (sebut saja Nia). Perkenalanku dengan Nia terjadi di kantor tempat kami bekerja. Awalnya hub kami hanya teman main bareng bersama teman2 lain. Akhirnya kami menjadi lbh dekat krn tinggal berdekatan. Kami sering berangkat bareng, sharing ini itu, aku curhat lg suka sm cewe lain, dy curhat lg dideketin sm cowo. Smua itu aku lakukan tanpa ada perasaan berlebih, hanya sebatas persahabatan.


Hubungan aku dan Nia sangat dekat, bisa dibilang sahabat sodara TTM atau apapun itulah. Aku dan Nia sering ntn dan makan bareng, kadang kami bergandengan tangan. Tapi hubungan kita tak selalu berjalan mulus. kami jg pernah bertengkar. Namun, kami bisa berbaikan kembali.


Akhirnya setelah mengenal Nia mpir 2 tahun, aku baru menyadari klo aku jatuh cinta dengan Nia. Aku sayang Nia. Slama ini aku slalu menyangkal perasaanku krn prinsipku, aku slalu blg tak mgkin jatuh cinta dengan Nia. Tapi makin hari aku makin memikirkan Nia.


Setelah memberanikan diri, aku mengungkapkan perasaanku, aku bilang pada Nia kalau aku sayang dengannya. Aku mau dia menjadi pasanganku. Nia menanyakan padaku apakah aku yakin dengan dia yg begitu. Aku yakin dengan keputusanku. Akhirnya dia berpikir sejenak dan mengambil keputusan, TIDAK dengan alasan dia ga bisa pacaran dengan temen sndiri, dia hanya menganggapku teman. Nia bilang dia jg sayang sama aku. Tapi tidak bisa..


2 hari berikutnya, Nia ajak aku makan malam bareng. Aku bilang sm dia utk janjian jam 7 aja, krn aku mau bikin cd lagu pesanan dia dulu. Tapi tiba2 jam stgh 7, dia ngambek blg lama banget.. Aku bilang OK bentar lagi aku kesana. Then waktu aku sampai di kosnya, dia blg jangan samperin dia. Dia ga mau temuin aku. Aku tanya dia knp. Aku blg akan tunggu sampai dia tenang, nti br temuin aku, Tapi dia marah, Nia bilang klo dia kluar n aku msh di kosnya, dy ga mau ngomong denganku lagi.


Akhirnya aku blg aku tunggu di mobil aja, nti klo da bener2 tenang baru temuin aku. Akhirnya dia temuin aku dan kluar makan bareng, tp dia jalan cepat skali. Bingung kenapa. Tapi akhirnya dia bicara jg denganku, walau terlihat aneh krn smbl memaksa untuk tertawa. Tapi akhirnya suasana mencair. Kita bs ngobrol normal. (FYI : ini malam terakhir Nia kos disini, krn akan meneruskan usaha keluarganya).


Skrg terhitung +/- 1 minggu telah berlalu. Aku masih sering teringat banyak kenanganku bersamanya, sedih maupun senang…


Nia, aku sayang kamu.. Aku ga peduli kekurangan-kekurangan dirimu. Aku suka dirimu yang apa adanya. Kau akan slalu ada dihatiku.. 


Ternyata prinsip cinta tak harus memiliki itu sangaaat sulit. Aku masih tak bisa menerima itu sampai skrg, krn aku msh mengharapkan dirinya.. Mgkn aku egois.. Aku jg bodoh krn begitu sayang dengannya… Kenapa aku harus jatuh cinta dengannya.. Itu pertanyaan di pikiranku hingga saat ini

»» Readmore

Tragisnya Kisah Cintaku



Saat itu aku duduk di bangku sma , baru 3 bulan aku menginjak lingkungan sekolah yang besar dan luas ini , setiap bell berbunyi aku baru sampai karena perjalanan ku tak dekat alias jauh dari rumah ke sekolah tak heran aku mendapatkan gelar " si ngaret " ya gimana engga kesiangan toh jarak tempuh ke sekolah dari rumahku tuh engga selangkah dua langkah dan aku pun memakai angkutan umum tak seperti murid - murid kaya lain yang ke sekolah menggunakan motor atau mobil nya ( walaupun milik orang tuanya ).aku kesiangan ga cuma 2 kali dalam seminggu bahkan lebih , karena sering kesiangan aku selalu mendapat bangku paling depan , bangku yang paling di benci murid - murid bodoh seperti aku karena takut dan tak pernah ingin jika guru melemparkan sebuah pertanyaan yang dapat memutar otak hingga 360 derajat.karena kesianganku yang sudah terlanjur permanen itu aku mendapatkan sebuah keuntungan yang menurutku sangatlah beruntung , di kelas aku mempunyai kecengan yang cantik dan pintar , banyak lelaki yang terpikat dan mencintainya tapi sayang dia selalu menolak semua lelaki sekelas yang pernah mengatakan cinta ke dia , aku sih ga termasuk karena ga berani untuk mengatakan cinta dan sayang ku ke dia , namanya desi , hhhhmm nama yang indah , karena dia smart dia selalu duduk di depan nah itulah keuntungannya , aku selalu duduk satu meja dengannya. Suatu hari saat aku telat masuk kebetulan aku telatnya 30 menit " dammnnnn ulangan fisika " dalam hatiku berteriak , resah dan gelisah hingga berkeringat darah (lebay) dengan penuh kegelisahan dan kecemasan aku langsung bergegas lari menuju gerbang sekolah " wwwhaaaaaatttttt ?? Di gembok gerbangnya " lagi - lagi hati ku tak tenang dan semakin gelisah , tanpa fikir panjang ku lompati gerbang tinggi itu dan " aaaaaawwwwwwwww " teriakku keras terjatuh saat melompati gerbang terjal bagai gunung kembar itu, emang sih berhasil melompati gerbang tinggi itu yang di atasnya runcing dan berbahaya tapi celana ku tersangkut ke bagian gerbang yg runcing itu dan menggores kulit ku dari pangkal paha hingga bawah lutut yang membuatku terjatuh dan berdarah , sungguh sialnya nasibku seorang murid yang bodoh juga tolol ini . Alhasil aku pun tidak mengikuti ulangan karena guru membawaku ke uks ( uhh kasian sekali ) , karena lelah dan ngantuk aku pun mengambil nafas sejenak dan masuk ke alam bawah sadar ku , seiring waktu berjalan tak terasa bell pulang berbunyi " untuk apa aku sekolah jika aku hanya tidur ? " kata ku dalam hati , ya aku tidur selama jam pelajaran berlangsung hinga jam pulang sungguh bodoh , padahal tidur di rumah lebih enak ! Dengan keadaan kaki yang cidera aku pun mencoba berjalan perlahan melangkahkan kaki untuk segera pulang , aku berjalan dengan muka meringis sakit dan perih , sesampainya aku di gerbang ..........terpana dan terbata diriku saat menatap wanita berambut panjang hingga punggung itu , angin pun bertiup kencang dan menyibakkan rambutnya seolah mengetahui suasana hatiku yang sedang terpesona melihat bidadari hidupku dannn..lamunanku buyar ketika angin kencang itu menyibakkan rambutnya dan mengenai wajah tampan ku ini  "ppprrrhuuuhh" suara yang keluar dari mulutku ketika rambutnya menggampar wajah ku , dia pun berbalik lalu menatapku " aduh maaf yaah !! Eh kamu ren , gimana kaki kamu masih sakit ? " tanya dia seolah memperhatikanku seperti layaknya kekasih hatinya.
" eeemmmphh lumayan sih cuma kayanya harus d amputasi nih " sedikit canda ku yang keterlaluan dengan nada yg serius .
" ah yg bener kamu ? Jangan ngomong sembarangan ah " sahutnya , sepertinya di a hawatir akan keadaanku ( fikirku dalam hati )
" ahahha aku bercanda des , masa gini aja amputasi sih "
" kali aja beneran , ngagetin aja "
" ko mesti kaget ? Biasa aja kali " mulailah rencana busukku dengan pertanyaan yg dapat memancing perhatiannya dan memaksanya untuk mengobrol sejenak denganku.
" ga apa apa kaget aja " jawab si desi dengan polos , huuft sedikit geram juga aku atas jawaban dinginnya itu , aku pun mulai membudah lagi dengan beribu kata ....
" ya kenapa ? Aku kan ga ngagetin kamu ? " tanya ku lagi ke dia
" kamu tuh ya maksa , aku kan dah bilang ga apa apa cuma kaget aja " jawabnya hmm kali ini sepertinya dia serius dan sudah merasa ingin menggamparku , kami pun berjalan bersama meninggalkan sekolah menuju persimpangan menanti hadirnya jemputan mewah dan ber ac ( angkot )

" des hari sabtu ke sekolah ga ? Kan cuma ekskul , kamu ekskul apaan ? " tanya ku memecahkan keheningan itu dengan membuka pertanyaan
" ya kesekolah tapi siangan kayanya , aku ekskul sains , kalo kamu ? "

wah mentang mentang pinter ni cewe ekskul sains les sains kutu lu des hina ku dalam hati

" kalo aku ekskul basket des , dateng pagi aja donk temenin aku ekskul yaa " pintaku manja

" yeeey buat apa di tungguin , yang ada juga aku nunggu cowo aku jemput " jawabnya yg lagi lagi polos dan kini membuat hatiku sedikit retak untung ga pecah .

" oh kamu dah punya cowo des ? Aku gatau loh , nak mana ? "
" udah donk dah 2 taun , nak 20 "

semakin tertutup lah gerbang menuju hatinya setelah mendengar perkataannya ! Akhirnya datang juga jemputan super duper mewah dan kami pun naik angkot yg sama karena searah , di dalam angkot kami hanya berdiam saja tak sepatah kata pun yg keluar dari mulut kami ." kiirrriiii bang " teriak desi memberhentikan angkot , ternyata dia telah sampai , desi pun turun duluan dan bilang sampai jumpa besok pada ku tapi saat dia baru aja turun dan membayar angkot , kepala ku ku keluarkan lewat jendela dan saat angkot mulai jalan lagi aku berkata pelan pelan namun terdengar di telinganya " desi aku suka sama kamu " yaaah aku sudah mengatakannya dengan sikon yg berbeda dari cara orang lain , belum sampai semenit pun dari sejak dia turun hape ku berbunyi , ah ternyata sms , whaatt desi !!!! Reflek aku menyetop angkot yg sedang melaju dengan kecepatan tinggi seperti f1 yg balap di padang pasir , spontan rem mendadak angkot yg ku tumpangi karena rem mendadak dan jalan berpasir , saat turun dari angkot seperti di film film aku ini , keluar dari asap bom ahahaha ! Padahal sms dari desi belum sempat aku baca namun aku sudah turun dari angkot karena ke pedean dia menjawab " aku juga suka kamu " dan ternyata isi sms nya


" tadi kamu bilang apaan ren ? Ga kedengeran "
serasa di gampar oleh tihang berdiameter 50cm langsung lemas usai membacanya !

Apa boleh buat aku sudah turun dan belum jauh dari tempat turunnya desi , aku pun berlari dengan keadaan kaki yg pincang sehingga lari ku tak bisa secepat messi , " ddeeeesiiiiiiiiii " teriak ku memanggil namanya ketika terlihat tas kuning yg sedang di gandongnya , dia pun hanya terdiam dan seperti tak mempercainya akan hadirku di depan matanya .
»» Readmore

Kisah Cinta Dalam Sebuah Dompet



Ketika aku berjalan kaki pulang ke rumah di suatu hari yang dingin,
kakiku tersandung sebuah dompet yang tampaknya terjatuh tanpa
sepengetahuan pemiliknya. Aku memungut dan melihat isi dompet itu
kalau-kalau aku bisa menghubungi pemiliknya. Tapi, dompet itu hanya
berisi uang sejumlah tiga Dollar dan selembar surat kusut yang
sepertinya sudah bertahun-tahun tersimpan di dalamnya.

Satu-satunya yang tertera pada amplop surat itu adalah alamat si
pengirim. Aku membuka isinya sambil berharap bisa menemukan petunjuk.
Lalu aku baca tahun "1924". Ternyata surat itu ditulis lebih dari 60
tahun yang lalu. Surat itu ditulis dengan tulisan tangan yang anggun
di atas kertas biru lembut yang berhiaskan bunga-bunga kecil di sudut
kirinya. Tertulis di sana, "Sayangku Michael", yang menunjukkan
kepada siapa surat itu ditulis yang ternyata bernama Michael. Penulis
surat itu menyatakan bahwa ia tidak bisa bertemu dengan Michael lagi
karena ibunya telah melarangnya. Tapi, meski begitu ia masih tetap
mencintainya. Surat itu ditanda tangani oleh Hannah.

Surat itu begitu indah. Tetapi tetap saja aku tidak bisa menemukan
siapa nama pemilik dompet itu. Mungkin bila aku menelepon bagian
penerangan, mereka bisa memberitahu nomor telepon alamat yang ada
pada amplop itu.

"Operator," kataku pada bagian penerangan, "Saya mempunyai permintaan
yang agak tidak biasa. Saya sedang berusaha mencari tahu pemilik
dompet yang saya temukan di jalan. Barangkali anda bisa membantu saya
memberikan nomor telepon atas alamat yang ada pada surat yang saya
temukan dalam dompet tersebut?" Operator itu menyarankan agar aku
berbicara dengan atasannya, yang tampaknya tidak begitu suka dengan
pekerjaan tambahan ini.

Kemudian ia berkata, "Kami mempunyai nomor telepon alamat tersebut,
namun kami tidak bisa memberitahukannya kepada anda." Demi kesopanan,
katanya, ia akan menghubungi nomor tersebut, menjelaskan apa yang
saya temukan dan menanyakan apakah mereka berkenan untuk berbicara
denganku. Aku menunggu beberapa menit. Tak berapa lama ia
menghubungiku, katanya, " Ada orang yang ingin berbicara dengan
anda." Lalu aku tanyakan pada wanita yang ada di ujung telepon sana,
apakah ia mengetahui seseorang bernama Hannah. Ia menarik nafas, "Oh,
kami membeli rumah ini dari keluarga yang memiliki anak perempuan
bernama Hannah. Tapi, itu 30 tahun yang lalu !"

"Apakah anda tahu dimana keluarga itu berada sekarang?" tanyaku.
"Yang aku ingat, Hannah telah menitipkan ibunya di sebuah panti jompo
beberapa tahun lalu," kata wanita itu. "Mungkin, bila anda
menghubunginya mereka bisa mencari tahu dimana Hannah, berada."

Lalu ia memberiku nama panti jompo tersebut. Ketika aku menelepon ke
sana, mereka mengatakan bahwa wanita tua itu, ibu Hannah, yang aku
maksud sudah lama meninggal dunia. Tapi mereka masih menyimpan nomor
telepon rumah dimana anak wanita itu tinggal.

Aku mengucapkan terima kasih dan menelepon nomor yang mereka berikan.
Kemudian, di ujung telepon sana, seorang wanita mengatakan bahwa
Hannah sekarang tinggal di sebuah panti jompo. "Semua ini tampaknya
konyol," kataku pada diriku sendiri. Mengapa pula aku mau repot-repot
menemukan pemilik dompet yang hanya berisi tiga Dollar dan surat yang
ditulis lebih dari 60 tahun yang lalu? Tapi, bagaimanapun aku
menelepon panti jompo tempat Hannah sekarang berada. Seorang pria
yang menerima teleponku mengatakan, "Ya, Hannah memang tinggal
bersama kami." Meski waktu itu sudah menunjukkan pukul 10 malam, aku
meminta agar bisa menemui Hannah.

"Ok," kata pria itu agak bersungut-sungut,

"Bila anda mau, mungkin ia sekarang sedang menonton TV di ruang
tengah." Aku mengucapkan terima kasih dan segera berkendaraan ke
panti jompo tersebut. Gedung panti jompo itu sangat besar. Penjaga
dan perawat yang berdinas malam menyambutku di pintu. Lalu, kami naik
ke lantai tiga. Di ruang tengah, perawat itu memperkenalkan aku
dengan Hannah. Ia tampak manis, rambut ubannya keperak-perakan,
senyumnya hangat dan matanya bersinar-sinar.

Aku menceritakan padanya mengenai dompet yang aku temukan. Aku pun
menunjukkan padanya surat yang ditulisnya. Ketika ia melihat amplop
surat berwarna biru lembut dengan bunga-bunga kecil di sudut kiri, ia
menarik nafas dalam-dalam dan berkata, "Anak muda, surat ini adalah
hubunganku yang terakhir dengan Michael." Matanya memandang jauh,
merenung dalam-dalam. Katanya dengan lembut, "Aku amat-amat
mencintainya. Saat itu aku baru berusia 16 tahun, dan ibuku
menganggap aku masih terlalu kecil. Oh, ia sangat tampan. Ia seperti
Sean Connery, si aktor itu."

"Ya," lanjutnya.. "Michael Goldstein adalah pria yang luar biasa.
Bila kau bertemu dengannya, katakan bahwa aku selalu memikirkannya,
dan ...," Ia ragu untuk melanjutkan, sambil menggigit bibir ia
berkata, "Katakan, aku masih mencintainya. Tahukah kau, anak muda,"
katanya sambil tersenyum. Kini air matanya mengalir, "Aku tidak
pernah menikah selama ini. Aku pikir, tak ada seorang pun yang bisa
menyamai Michael."

Aku berterima kasih pada Hannah dan mengucapkan selamat tinggal. Aku
menuruni tangga ke lantai bawah. Ketika melangkah keluar pintu,
penjaga di sana menyapa, "Apakah wanita tua itu bisa membantu anda?"
Aku sampaikan bahwa Hannah hanya memberikan sebuah petunjuk, "Aku
hanya mendapatkan nama belakang pemilik dompet ini. Aku pikir, aku
biarkan sajalah dompet ini untuk sejenak. Aku sudah menghabiskan
hampir seluruh hariku untuk menemukan pemilik dompet ini."

Aku keluarkan dompet itu, dompet kulit dengan benang merah di sisi-
sisinya. Ketika penjaga itu melihatnya, ia berseru, "Hei, tunggu
dulu! Itu adalah dompet Pak Goldstein! Aku tahu persis dompet dengan
benang merah terang itu. Ia selalu kehilangan dompet itu. Aku sendiri
pernah menemukan dompet itu tiga kali di dalam gedung ini." "Siapakah
Pak Goldstein itu?" tanyaku. Tanganku mulai gemetar. "Ia adalah
penghuni lama gedung ini. Ia tinggal di lantai delapan. Aku tahu
pasti, itu adalah dompet Mike Goldstein. Ia pasti menjatuhkannya
ketika sedang berjalan-jalan di luar."

Aku berterima kasih pada penjaga itu dan segera lari ke kantor
perawat. Aku ceritakan pada perawat di sana apa yang telah dikatakan
oleh si penjaga. Lalu, kami kembali ke tangga dan bergegas ke lantai
delapan. Aku berharap Pak Goldstein masih belum tertidur. Ketika
sampai di lantai delapan, perawat berkata, "Aku pikir ia masih berada
di ruang tengah. Ia suka membaca di malam hari. Ia adalah pak tua
yang menyenangkan. "

Kami menuju ke satu-satunya ruangan yang lampunya masih menyala. Di
sana duduklah seorang pria membaca buku. Perawat mendekati pria itu
dan menanyakan apakah ia telah kehilangan dompet. Pak Goldstein
memandang dengan terkejut. Ia lalu meraba saku belakangnya dan
berkata, "Oh ya, dompetku hilang!" Perawat itu berkata, "Tuan muda
yang baik ini telah menemukan sebuah dompet. Mungkin dompet anda?"

Aku menyerahkan dompet itu pada Pak Goldstein. Ia tersenyum gembira.
Katanya, "Ya, ini dompetku! Pasti terjatuh tadi sore. Aku akan
memberimu hadiah." "Ah tak usah," kataku. "Tapi aku harus
menceritakan sesuatu pada anda. Aku telah membaca surat yang ada di
dalam dompet itu dengan harap aku mengetahui siapakah pemilik dompet
ini." Senyumnya langsung menghilang. "Kamu membaca surat ini?" "Bukan
hanya membaca, aku kira aku tahu dimana Hannah sekarang."

Wajahnya tiba-tiba pucat. "Hannah? Kau tahu dimana ia sekarang?
Bagaimana kabarnya? Apakah ia masih secantik dulu? Katakan, katakan
padaku," ia memohon. "Ia baik-baik saja, dan masih tetap secantik
seperti saat anda mengenalnya, " kataku lembut. Lelaki tua itu
tersenyum dan meminta, "Maukah anda mengatakan padaku dimana ia
sekarang? Aku akan meneleponnya esok." Ia menggenggam tanganku,
"Tahukah kau anak muda, aku masih mencintainya. Dan saat surat itu
datang, hidupku terasa berhenti. Aku belum pernah menikah, aku selalu
mencintainya. " "Michael," kataku, "Ayo ikuti aku."

Lalu kami menuruni tangga ke lantai tiga. Lorong-lorong gedung itu
sudah gelap. Hanya satu atau dua lampu kecil menyala menerangi jalan
kami menuju ruang tengah di mana Hannah masih duduk sendiri menonton
TV. Perawat mendekatinya perlahan. "Hannah," kata perawat itu lembut.
Ia menunjuk ke arah Michael yang sedang berdiri di sampingku di pintu
masuk. "Apakah anda tahu pria ini?" Hannah membetulkan kacamatanya,
melihat sejenak, dan terdiam tidak mengucapkan sepatah katapun.
Michael berkata pelan, hampir-hampir berbisik, "Hannah, ini aku,
Michael. Apakah kau masih ingat padaku?" Hannah gemetar, "Michael!
Aku tak percaya. Michael! Kau! Michaelku!" Michael berjalan perlahan
ke arah Hannah. Mereka lalu berpelukan. Perawat dan aku meninggalkan
mereka dengan air mata menitik di wajah kami.

"Lihatlah," kataku. "Lihatlah, bagaimana Tuhan berkehendak. Bila Ia
berkehendak, maka jadilah." Sekitar tiga minggu kemudian, di kantor
aku mendapat telepon dari rumah panti jompo itu. "Apakah anda
berkenan untuk hadir di sebuah pesta pernikahan di hari Minggu
mendatang? Michael dan Hannah akan menikah!" Dan pernikahan itu,
pernikahan yang indah. Semua orang di panti jompo itu mengenakan
pakaian terbaik mereka untuk ikut merayakan pesta. Hannah mengenakan
pakaian abu-abu terang dan tampak cantik. Sedangkan Michael
mengenakan jas hitam dan berdiri tegak. Mereka menjadikan aku sebagai
wali mereka.

Rumah panti jompo memberi hadiah kamar bagi mereka. Dan bila anda
ingin melihat bagaimana sepasang pengantin berusia 76 dan 79 tahun
bertingkah seperti anak remaja, anda harus melihat pernikahan
pasangan ini. Akhir yang sempurna dari sebuah hubungan cinta yang tak
pernah padam selama 69 tahun.
»» Readmore